Skip links
Artikel

Empat Destinasi Wisata Religi di Kota Madiun​

Selain wisata dan rekreasi keluarga, Kota Madiun juga memiliki berbagai tempat wisata yang sarat akan nilai sejarah dan nilai spiritual. Tak hanya bernafaskan Islam, tempat-tempat berikut menjadi bukti keragaman yang ada di Kota Madiun.

1. Klenteng Hwie Ing Kiong

Tempat ibadah pemeluk agama Kong Hu Cu ini terletak di Jalan Cokroaminoto No.69 Madiun. Klenteng ini dibangun pada tahun 1887 Masehi dan selesai pada tahun 1896. Bangunan yang bergaya sangat khas Tiongkok ini memiliki pujaan utama yaitu YM Mak Zu Thian Shang Sheng Mu. Sementara, arti dari nama Hwie Ing Kiong bermakna istana kesejahteraan dan kemuliaan.

Selain bangunan utama yang digunakan untuk pemujaan, klenteng ini juga memiliki bagian depan yang dibangun 4 pilar ukiran naga. Di bagian belakang, terdapat bangunan pagoda 3 tingkat yang masing-masing memiliki makna. 

Konon, dipercaya bahwa lantai klenteng tidak pernah diganti dikarenakan banyak jejak kaki Hu Shen yang membantu umat Hwi Ing Kiong. 

Dominasi warna merah dan ornamen Tiongkok menjadi ciri khas tersendiri klenteng ini di antara bangunan-bangunan di Kota Madiun. Apabila ingin berkunjung, klenteng ini buka 24 jam dan tidak dikenakan biaya masuk sepeser pun. 

2. Gereja Santo Cornelius

Coustesy Madiun Today

Tidak satupun pemeluk Katolik area Madiun sekitarnya yang tidak mengetahui bangunan satu ini. Gereja Santo Cornelius terletak di jantung Kota Madiun, tepatnya di Jalan Ahmad Yani No. 3 yang dekat dengan Pahlawan Street Center.

Walaupun nampak seperti bangunan modern, gereja ini ternyata dibangun pada tanggal 12 Maret 1899. Bahkan, gereja yang juga paroki ini merupakan yang tertua kedua di Keuskupan Surabaya. Karena banyaknya penganut Katolik di Madiun, gereja ini mengalami renovasi pada tahun 1937. 

Di area gereja, terdapat Gua Maria Diberkati yang diwujudkan dengan hadirnya patung Bunda Maria berwarna putih bersih. Tak hanya itu, gereja ini juga dilengkapi dengan sekolah bernafas Katolik yakni St. Bernadus.

Ibadah Misa dilaksanakan setiap hari di gereja ini. Setiap hari Senin hingga Sabtu, ibadah harian dimulai pukul 05.15 WIB. Sementara, ibadah pada sore hari dilaksanakan pada 18.00 WIB.

Karena peran besarnya dalam perkembangan Katolik di wilayah Madiun sekitarnya, gereja ini dinobatkan menjadi salah satu cagar budaya yang dilindungi di Jawa Timur.

3. Makam dan Masjid Kuno Taman

Masjid yang terletak di Jalan Asahan No. 46 Kelurahan Taman ini dibangun persis di samping makam kuno yang juga menjadi cagar budaya dan peninggalan sejarah. Dibangun pada tahun 1754 oleh Kyai Donopuro, masjid ini sempat mengalami renovasi. 

Bangunan utamanya dibangun dari kayu jati dengan ukuran yang cukup besar. Dengan bergaya arsitektur Jawa, masjid ini beratap tajug khas joglo dengan tiga pintu masuk utama.

Masjid ini juga lekat dengan sejarah Kerajaan Mataram yang menjadi cikal bakal berdirinya Madiun. Kyai Donopuro juga menjadi pionir penyebaran Islam di wilayah Kota Pendekar ini dan sekitarnya.

Pada tahun 1981, masjid ini masuk dalam daftar peninggalan cagar budaya. Pada saat itu juga, namanya pun resmi diganti menjadi Masjid Besar Kuno Madiun.

4. Masjid Kuno Kuncen

Masjid yang memiliki nama lain Masjid Nur Hidayatulloh ini menjadi yang tertua di Kota Madiun. Masjid ini dibangun ketika masa pemerintahan Pangeran Timoer sebagai Bupati Madiun, tepatnya pada tahun 1567.

Selain sebagai tempat beribadah, masjid ini juga sering disinggahi oleh mereka yang ingin berziarah ke makam yang mengelilingi masjid ini. Makam tersebut tak biasa, karena merupakan tempat peristirahatan terakhir para Bupati Madiun diantaranya yaitu Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno, Bupati Mangkunegara I, dan Patih Wonosari.

Selain makam, bukti peninggalan sejarah juga terdapat pada artefak-artefak di sekeliling masjid serta adanya sendang (tempat pemandian) keramat.

5. Masjid Agung Baitul Hakim

Masjid Baitul Hakim
Masjid Baitul Hakim

Tak ada yang mengira jika masjid ini memiliki nilai sejarah. Bangunan yang terlihat modern di area luar, ternyata hasil dari renovasi besar-besaran yang dimulai pada tahun 2002 hingga 2011.

Masjid Agung Baitul Hakim terletak tepat di sisi barat Alun-Alun Kota Madiun. Tak ada yang tahu pasti kapan masjid ini dibangun, namun dipercaya bahwa masjid ini menjadi salah satu peninggalan Ronggo Jumeno sekitar tahun 1830-an.

Tidak pernah sepi dengan jamaah, masjid ini memiliki 5 kubah besar, 3 kubah lebih kecil serta 1 kubah di bagian selatan. Selain itu, juga terdapat menara yang menjulang setinggi 25 meter di utara pintu gerbang masjid.

This website uses cookies to improve your web experience.